SEBUAH studi terbaru dari Ohio State University mengungkap air minum kemasan lebih banyak mengandung partikel nanoplastik ketimbang air keran yang telah
diolah. Hasil penelitian ini mengestimasikan bahwa partikel nanoplastik yang terkandung dalam air minum kemasan itu mencapai tiga kali lipat lebih banyak.
Temuan ini menentang persepsi umum yang menganggap air kemasan sebagai pilihan yang lebih bersih dan aman dari kontaminasi partikel plastik. Meskipun mikroplastik sudah lama menjadi perhatian, nanoplastik dianggap lebih rumit karena ukurannya yang jauh lebih kecil dan sulit dideteksi.
“Walau kita belum sepenuhnya memahami risiko kesehatan manusia yang terkait dengan paparan nanoplastik, tetap lebih baik untuk mengurangi risiko tersebut,” kata penulis studi Megan Hart dikutip dari Earth pada Selasa, 3 Februari 2026.
Para ilmuwan menggunakan kombinasi teknik pencitraan resolusi tinggi dan identifikasi kimia untuk mengecek kontaminasi nanoplastik ini. Metode canggih seperti pemindaian mikroskop elektron dan spektroskopi fototermal inframerah optik dari teknik ini memungkinkan mereka untuk mengenali partikel-partikel super kecil tersebut.
Terkait sumber kontaminasi, penelitian menemukan bahwa jenis plastik yang paling umum ditemukan dalam air kemasan berasal dari kemasannya sendiri. Hal ini konsisten dengan dugaan bahwa partikel-partikel tersebut luruh dari botol, tutup botol, atau selama proses pembotolan dan penanganan produk.
Megan Hart menyarankan agar masyarakat mulai membuat pilihan bijak untuk mengurangi paparan bahan kimia berbahaya ini. "Bagi orang awam yang haus dan ingin minum, cara terbaik adalah meminumnya langsung dari keran daripada mengambil air yang sudah dibotolkan," kata mahasiswa PhD di Ohio State University itu.
Penelitian yang juga diterbitkan dalam jurnal Science of The Total Environment ini diproyeksikan bakal memicu perbaikan desain pengolahan air di masa depan. John Lenhart yang juga penulis dalam studi ini menambahkan bahwa pemahaman mendalam mengenai komposisi material dalam air adalah kunci untuk menciptakan keputusan desain yang lebih baik bagi remediasi lingkungan.
“Dengan memahami komposisi dasar material dalam air dan reaksi-reaksi penting untuk mengendalikan komposisi tersebut, kita dapat membuat keputusan desain yang lebih baik untuk pengolahan atau remediasi di masa mendatang,” ucap John Lenhart.
Pilihan Editor: Temuan Fosil 2,6 Juta Tahun Ini Bakal Ubah Sejarah Manusia?
