KEPALA Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A. Sidabalok menanggapi penelitian soal kandungan nutrisi abon ikan
sapu-sapu di Sungai Ciliwung yang diklaim berada di atas standar mutu nasional (SNI).
Menurut Hasudungan, secara biologis ikan sapu-sapu memang layak dikonsumsi jika berasal dari hasil budi daya terkontrol. Namun, ada pengecualian untuk ikan sapu-sapu yang berkembang di sungai atau waduk tercemar seperti di Ciliwung.
"Pada kali yang tercemar, risiko kontaminasi cemaran logam berat berbahaya sangat tinggi. Ini berbahaya jika ikan sapu-sapu di kali tercemar dikonsumsi," kata Hasudungan melalui keterangan tertulis yang diterima Tempo pada Rabu, 28 Januari 2026.
Ia mengatakan ikan hasil tangkapan liar yang diperoleh dari sungai tercemar biasanya tidak melalui sistem pengawasan dan keamanan mutu, sehingga tidak dapat dipastikan seperti apa kualitas gizi dari ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung tersebut. Terlebih, sapu-sapu dikenal sebagai ikan yang memiliki kemampuan menyerap logam di perairan tercemar.
Selain itu, kata Hasudungan, ikan yang hidup di perairan tercemar berpotensi membawa bakteri patogen atau parasit yang menyebabkan gangguan pencernaan. "Melihat sungai yang ada di Jakarta sudah tercemar oleh limbah industri, sehingga ikan liar yang diambil di perairan Jakarta tidak layak untuk dikonsumsi," ujarnya.
Ia pun mengimbau kepada masyarakat yang rutin mengonsumsi ikan untuk menghindari ikan dari sungai-sungai tercemar. Menurut dia, tidak ada jaminan keamanan gizi dan mutu dari ikan yang hidup di perairan tercemar ini. Terlebih dengan tingginya risiko tercemarnya tubuh ikan dengan komponen logam berat.
Penelitian Nutrisi Ikan Sapu-sapu
Adapun penelitian terkait kandungan nutrisi abon ikan sapu-sapu asal Sungai Ciliwung telah terbit tiga tahun lalu. Tapi, belakangan penelitian dalam Jurnal Pengolahan Pangan Volume 7 Nomor 1 halaman 14-19 edisi Juni 2022 itu menjadi perbincangan.
Studi soal abon ikan sapu-sapu ini dikerjakan oleh Haninah, Handhini Dwi Putri, Dewi Elfidasari, dan Irawan Sugoro dari Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Al Azhar Indonesia, serta Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN).
Menurut studi ini, sampel ikan sapu-sapu yang mereka olah dagingnya menjadi abon dengan metode pembersihan serta campuran bumbu pendukung lainnya, membuat protein abon ikan sapu-sapu mencapai 39,68 persen.
Angka ini berada di atas SNI 7690.1:2013 yang mensyaratkan kadar protein minimal 30 persen untuk produk abon. Kadar protein abon dianalisis menggunakan metode Kjeldahl, metode standar laboratorium untuk menentukan kandungan nitrogen yang kemudian dikonversi menjadi kadar protein.
Pilihan Editor: Riset ITB-BRIN-IPB Identifikasi Spesies Baru Kantong Semar
