Pelopor Generasi Ketiga: Trio J-Line TWICE
Ketika membicarakan idol K-Pop asal Jepang, mustahil untuk tidak menyebut "J-Line" dari TWICE: Sana, Momo, dan Mina. Ketiganya debut pada tahun 2015 dan langsung menjadi fenomena. Sana Minatozaki, dengan
kepribadiannya yang ceria dan bagian ikonik "shy shy shy" dalam lagu "Cheer Up", berhasil mencuri hati banyak penggemar. Hirai Momo, yang dikenal sebagai salah satu penari terbaik di generasinya, awalnya tereliminasi dari program survival SIXTEEN namun dibawa kembali oleh JYP Entertainment berkat bakatnya yang luar biasa. Sementara itu, Myoui Mina yang lahir di Amerika Serikat namun besar di Jepang, memancarkan aura elegan dan merupakan seorang balerina andal sebelum menjadi idol. Kehadiran mereka tidak hanya memperkuat basis penggemar TWICE di Jepang, tetapi juga menetapkan standar baru bagi idol non-Korea di industri K-Pop.
Yuta NCT: Sang Pangeran dari Osaka
Di kalangan idol pria, Yuta Nakamoto dari NCT menjadi salah satu figur paling menonjol. Lahir di Osaka, Jepang, Yuta meninggalkan mimpinya menjadi pemain sepak bola profesional untuk mengejar karier sebagai idol setelah terinspirasi oleh TVXQ. Ia bergabung dengan SM Entertainment pada tahun 2012 dan menjadi salah satu trainee asing yang diperkenalkan sebagai bagian dari SM Rookies. Debut bersama sub-unit NCT 127 pada tahun 2016, Yuta dikenal dengan kemampuan menarinya yang tajam, vokal yang khas, dan karisma panggung yang kuat. Ia adalah artis Jepang pertama yang debut di bawah naungan SM Entertainment, membuka jalan bagi banyak talenta Jepang lainnya di agensi tersebut. Di luar musik, ia juga aktif sebagai pembawa acara radio dan bahkan telah merilis album solo, menunjukkan keserbagunaannya sebagai seorang seniman.
Dua Generasi dalam Satu Grup: Sakura dan Kazuha LE SSERAFIM
LE SSERAFIM, grup besutan HYBE dan Source Music, memiliki dua anggota asal Jepang dengan latar belakang yang sangat berbeda. Miyawaki Sakura sudah menjadi bintang besar di Jepang sebagai anggota HKT48 dan AKB48, serta pernah debut di Korea bersama IZ*ONE. Keputusannya untuk kembali debut bersama LE SSERAFIM menunjukkan determinasi dan kecintaannya pada panggung K-Pop. Pengalamannya yang luas membuatnya menjadi mentor bagi anggota lain. Di sisi lain, Kazuha Nakamura adalah seorang balerina profesional yang telah belajar di akademi balet ternama di Belanda sebelum direkrut oleh Source Music. Keanggunan gerakan balet yang ia bawa ke dalam koreografi grup memberikan warna unik bagi LE SSERAFIM. Kombinasi antara idol veteran dan talenta baru ini menjadi salah satu daya tarik utama grup.
Giselle aespa: Latar Belakang Multikultural
Giselle, atau Aeri Uchinaga, adalah anggota aespa yang dikenal dengan kemampuan rap dan latar belakangnya yang unik. Lahir di Korea Selatan dari ayah Jepang dan ibu Korea, ia tumbuh besar di Tokyo dan mengenyam pendidikan di sekolah internasional. Hal ini membuatnya fasih dalam tiga bahasa: Jepang, Korea, dan Inggris. Giselle menjalani masa trainee yang relatif singkat, hanya 11 bulan, sebelum debut bersama aespa pada tahun 2020. Bakatnya dalam menulis lirik rap dan gayanya yang keren dengan cepat membuatnya menonjol. Identitas multikulturalnya mencerminkan citra global yang diusung oleh aespa dan SM Entertainment.
Invasi Generasi Keempat: Pasukan Jepang di TREASURE
Grup asuhan YG Entertainment, TREASURE, dikenal memiliki banyak anggota, termasuk barisan kuat dari Jepang. Awalnya ada empat anggota, dan kini tersisa tiga: Yoshi, Asahi, dan Haruto. Mereka semua ditemukan melalui program survival 'YG Treasure Box'. Haruto Watanabe dari Fukuoka dikenal dengan suara rapnya yang dalam dan visualnya yang menawan. Kanemoto Yoshinori, atau Yoshi, adalah rapper lain yang juga memiliki kemampuan beatbox. Sementara itu, Hamada Asahi tidak hanya seorang vokalis tetapi juga berbakat dalam menulis dan menggubah lagu, terbukti dari keterlibatannya dalam pembuatan lagu untuk grup. Kehadiran mereka secara signifikan membantu TREASURE membangun basis penggemar yang sangat kuat di Jepang sejak awal debut.












