Dari Jurnalis Menuju Lingkaran Politik
Lahir di Madiun, 3 Januari 1968, Nanik S. Deyang mengawali kariernya sebagai seorang wartawan. Ia tercatat pernah bekerja di Tabloid Bangkit, yang merupakan bagian dari kelompok Kompas Gramedia, dan kemudian
memimpin berbagai media. Pengalamannya di dunia pers membentuk sikap kritisnya terhadap isu sosial dan politik. Namanya mulai dikenal lebih luas di kancah politik nasional saat bergabung dalam tim pemenangan Prabowo Subianto. Pada Pilpres 2019, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) untuk pasangan Prabowo-Sandiaga. Kedekatannya dengan Prabowo berlanjut, yang kemudian membawanya masuk ke dalam lingkaran pemerintahan setelah Pilpres 2024.
Sederet Jabatan Sebelum Memimpin BGN
Sebelum akhirnya memimpin Badan Gizi Nasional, Nanik telah menduduki beberapa posisi strategis. Setelah kemenangan Prabowo pada 2024, ia dilantik sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Tak lama setelah itu, kariernya merambah ke badan usaha milik negara saat ia ditunjuk menjadi Komisaris Independen di PT Pertamina (Persero) pada Juni 2025. Isu rangkap jabatan ini sempat menjadi sorotan publik. Pada September 2025, ia kemudian diangkat menjadi Wakil Kepala BGN, sebuah posisi yang mengantarkannya untuk lebih fokus pada isu gizi nasional.
Ditunjuk Pimpin Badan Gizi Nasional
Pada 2 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto menunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, menggantikan Dadan Hindayana. Penunjukan ini terjadi di tengah upaya pemerintah untuk menjalankan program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi mandat utama BGN. Badan Gizi Nasional sendiri merupakan lembaga pemerintah yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024, dengan tugas utama melaksanakan pemenuhan gizi nasional. Sasaran utamanya adalah anak-anak usia sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui.
Penyebab Sorotan dan Kontroversi
Pengangkatan Nanik sebagai Kepala BGN tidak lepas dari pro dan kontra. Salah satu kritik utama yang muncul adalah latar belakangnya yang dinilai tidak terkait langsung dengan bidang gizi atau kesehatan masyarakat. Hal ini menimbulkan keraguan di sebagian kalangan mengenai kapasitas teknisnya dalam memimpin lembaga yang sangat vital tersebut. Selain itu, rekam jejaknya di dunia politik, termasuk keterlibatannya dalam kasus hoaks Ratna Sarumpaet beberapa tahun lalu, kembali diungkit oleh publik. Isu rangkap jabatan sebagai Komisaris Pertamina juga menambah daftar panjang sorotan yang dialamatkan kepadanya.
Pengunduran Diri yang Mengejutkan
Secara mengejutkan, hanya sekitar satu bulan setelah dilantik, Nanik S. Deyang mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan Kepala BGN pada Rabu, 22 Juli 2026. Melalui pengumuman pribadi, ia menyatakan bahwa alasan di balik keputusannya adalah masalah kesehatan yang mengharuskannya menjalani pengobatan di luar negeri. Ia mengaku telah menyampaikan pengunduran dirinya kepada Presiden Prabowo dan telah mendapatkan persetujuan. Keputusan ini mengakhiri masa jabatannya yang singkat di pucuk pimpinan lembaga yang tengah disorot publik.









