Gerard Pique pernah melontarkan ide radikal dalam sebuah diskusi dengan Iker Casillas: jika pertandingan berakhir 0-0, kedua tim sebaiknya tidak berhak
mendapatkan poin sama sekali. Ide ini mungkin terdengar ekstrem dan mustahil diterapkan, namun hal tersebut mencerminkan keresahan mendalam banyak penggemar sepakbola yang membayar tiket mahal demi melihat hiburan berupa gol, bukan pertahanan gerendel yang membosankan.
Di Liga Primer musim 2025/26, keresahan Pique seolah menjadi kenyataan yang pahit. Hingga pertengahan musim, kompetisi kasta tertinggi Inggris ini telah mencatatkan 17 kali hasil imbang 0-0. Jumlah ini sudah melampaui total skor kacamata yang terjadi di sepanjang musim lalu (16 kali) dan jauh di atas catatan dua musim sebelumnya (11 kali). Fenomena ini merata, melibatkan tim papan atas seperti Arsenal hingga tim yang berjuang di zona degradasi.
Data statistik menunjukkan adanya anomali yang signifikan dibandingkan tren beberapa tahun terakhir. Setelah publik dimanjakan dengan rekor gol terbanyak dalam sejarah kompetisi pada musim 2023/24 (rata-rata 3,3 gol per laga), musim ini keran gol seolah macet dengan rata-rata turun menjadi 2,7 per laga. Angka ini menandakan pergeseran taktik yang nyata di mana pragmatisme mulai mengambil alih panggung hiburan.
Apakah ini tanda kemunduran kualitas para penyerang atau justru evolusi taktik pertahanan yang kian solid? Analisis mendalam terhadap data tembakan, lokasi peluang, dan gaya bermain tim-tim Liga Primer mengungkapkan fakta menarik di balik layar yang menjelaskan mengapa gawang-gawang di Inggris kini semakin sulit ditembus oleh para striker kelas dunia.
Anomali Statistik Skor 0-0 di Eropa
Fenomena "puasa gol" ini ternyata tidak hanya monopoli Liga Primer. Di Italia, Serie A mengalami lonjakan serupa dengan 10% dari total pertandingan yang dimainkan berakhir tanpa gol. Ini adalah angka tertinggi di Italia sejak musim 2011/12, menandakan kembalinya gaya Catenaccio yang mengutamakan pertahanan rapat. Namun, jika dibandingkan dengan liga top Eropa lainnya, Liga Primer dan Serie A menjadi outlier atau penyimpangan yang sangat mencolok.
Bundesliga Jerman, LaLiga Spanyol, dan Ligue 1 Prancis masih mempertahankan rasio hasil imbang tanpa gol di angka yang wajar, yakni di bawah 6%. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa liga yang dianggap paling kompetitif dan menghibur di dunia justru paling sering menghasilkan skor kacamata musim ini? Di Inggris, persentase laga 0-0 melonjak drastis dari hanya 2,9% pada musim 2023/24 menjadi 7,7% pada musim 2025/26.
Perubahan drastis dalam persentase ini mengindikasikan bahwa pelatih-pelatih di Liga Primer sedang melakukan kalibrasi ulang terhadap taktik mereka. Setelah beberapa tahun didominasi oleh sepakbola menyerang "ultra-ofensif" yang cair, kini tim-tim merespons dengan sistem pertahanan blok rendah yang lebih terorganisir. Mereka tampaknya lebih memilih mengamankan satu poin daripada mengambil risiko kalah demi mengejar tiga poin.
Kenaikan tren ini juga bisa dilihat sebagai siklus alami sepakbola. Ketika serangan menjadi terlalu dominan, evolusi taktik akan bergeser ke cara menghentikannya. Tabel di bawah ini memperlihatkan betapa timpangnya persentase hasil imbang tanpa gol di Inggris dan Italia dibandingkan dengan liga-liga top Eropa lainnya saat ini.
Persentase Hasil Imbang 0-0 di 5 Liga Top Eropa (2025/26)
| Liga |
Persentase Laga 0-0 |
Status Tren |
| Serie A |
10,0% |
Tertinggi sejak 2011 |
| Premier League |
7,7% |
Naik drastis dari 2.9% |
| Bundesliga |
5,7% |
Stabil |
| Ligue 1 |
4,9% |
Rendah |
| La Liga |
4,5% |
Rendah |
Penurunan Drastis Jumlah Tembakan
Salah satu penyebab teknis utama dari minimnya gol adalah penurunan volume tembakan secara keseluruhan dalam pertandingan. Musim ini, rata-rata tembakan per pertandingan di Liga Primer hanya mencapai angka 24,4 kali. Angka ini adalah yang terendah kedua dalam sejarah pencatatan data sejak 2003, hanya kalah "sepi" dari musim pandemi 2020/21 yang dimainkan tanpa penonton, di mana urgensi permainan memang menurun.
Lebih spesifik dan mengkhawatirkan lagi, jumlah tembakan tepat sasaran anjlok ke titik terendah dalam sejarah Liga Primer, yakni hanya 8,2 per pertandingan. Jika dibandingkan dengan dua musim lalu di mana rata-rata mencapai hampir 10 tembakan tepat sasaran per laga, penurunan ini sangat terasa. Total proyeksi penurunan tembakan tepat sasaran bisa mencapai 17% dalam kurun waktu dua tahun saja.
Data ini menunjukkan bahwa tim-tim Liga Primer kini bermain jauh lebih hati-hati dan penuh perhitungan. Mereka tidak lagi menghamburkan tembakan spekulatif dari segala arah, melainkan menunggu momen yang benar-benar matang untuk menekan pelatuk. Filosofi "tahan bola" lebih diutamakan daripada "lepas tembakan", yang membuat permainan menjadi lebih lambat.
Akibatnya, kiper lebih jarang bekerja keras, dan penonton lebih jarang melihat aksi penyelamatan gemilang. Kesabaran dalam membangun serangan ini justru sering kali menjadi bumerang, karena memberi waktu bagi pertahanan lawan untuk kembali ke posisi dan menutup ruang tembak. Tabel berikut merangkum penurunan aktivitas serangan yang signifikan tersebut.
Statistik Penurunan Aktivitas Tembakan
| Metrik Statistik |
Rata-rata Musim Ini |
Rekor Historis |
| Total Tembakan per Laga |
24,4 |
Terendah kedua (setelah musim pandemi) |
| Tembakan Tepat Sasaran |
8,2 |
Terendah sepanjang sejarah |
| Tembakan (non-blok) |
17,3 |
Terendah sepanjang sejarah |
Paradoks Kotak Penalti
Ada sebuah paradoks statistik yang sangat menarik terjadi di musim ini. Meski jumlah tembakan menurun drastis ke rekor terendah, aktivitas pemain di dalam kotak penalti lawan justru sangat tinggi. Rata-rata sentuhan bola di kotak penalti lawan mencapai 50,3 kali per laga, yang merupakan angka tertinggi ketiga dalam sejarah Liga Primer sejak data ini dicatat.
Artinya, tim-tim menyerang sebenarnya berhasil membawa bola masuk ke zona berbahaya (jantung pertahanan), namun mereka gagal mengonversinya menjadi tembakan bersih. Ini mengindikasikan bahwa kualitas pertahanan, terutama dalam melakukan blok dan intersep di area vital, semakin membaik. Bek-bek Liga Primer semakin piawai menumpuk pemain di kotak penalti untuk menutup jalur tembak, membuat penyerang frustrasi meski sudah memegang bola di area gawang.
Selain itu, jumlah tembakan dari luar kotak penalti mencapai titik terendah dalam sejarah, yakni di bawah delapan kali per laga. Tim-tim modern seolah "alergi" melakukan tembakan jarak jauh yang secara statistik memiliki nilai Expected Goals (xG) rendah. Mereka bersikeras untuk melakukan passing hingga ke mulut gawang demi mendapatkan peluang dengan probabilitas gol tertinggi.
Strategi ini logis secara matematis, namun membuat serangan menjadi lebih mudah diprediksi oleh bek lawan. Dengan mengabaikan opsi tembakan jarak jauh, tim menyerang membiarkan pertahanan lawan fokus memadati kotak penalti tanpa perlu keluar untuk melakukan pressing di area luar. Tabel di bawah menyoroti anomali di mana bola sering sampai di kotak penalti, namun jarang menjadi tembakan.
Paradoks Aktivitas Serangan di Area Lawan
| Metrik Serangan |
Rata-rata Musim Ini |
Tren Historis |
| Sentuhan di Kotak Lawan |
50,3 |
Tertinggi ketiga sejak 2008 |
| Tembakan di Dalam Kotak |
16,7 |
Tertinggi keempat sejak 2003 |
| Tembakan Luar Kotak |
7,8 |
Terendah sepanjang sejarah |
Efisiensi vs Kuantitas
Apakah kualitas penyelesaian akhir (finishing) para striker yang menjadi biang kerok minimnya gol? Data statistik justru membantah anggapan tersebut dengan tegas. Tingkat konversi tembakan menjadi gol di Liga Primer musim 2025/26 berada di angka 11,2%. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi dalam sejarah kompetisi, hanya kalah dari tiga musim lainnya sejak 2003.
Masalah utamanya bukan pada ketajaman atau kemampuan menembak para striker, melainkan pada kelangkaan peluang yang mereka dapatkan. Para penyerang Liga Primer saat ini sebenarnya sangat efisien dan mematikan ketika mendapatkan kesempatan bersih. Namun, kesempatan bersih itu sendiri yang menjadi barang mewah dan semakin sulit didapat karena rapatnya pertahanan lawan.
Fenomena ini menegaskan bahwa sepak bola sedang berada dalam siklus di mana taktik defensif sedang berada di atas angin. Pelatih lebih memilih struktur pertahanan yang aman dan terorganisir daripada mengambil risiko bermain terbuka yang bisa mengekspos lini belakang mereka. Akibatnya, pertandingan menjadi adu kesabaran dan efisiensi.
Kita melihat pergeseran dari kuantitas ke kualitas. Tim-tim lebih memilih melepaskan sedikit tembakan namun dengan peluang gol tinggi, daripada memberondong gawang lawan dengan tembakan spekulatif. Sayangnya bagi penonton, pendekatan efisiensi tinggi ini sering kali menghasilkan tontonan yang minim aksi gol.
Analisis Efisiensi Striker
| Statistik Efisiensi |
Angka Musim Ini |
Analisis |
| Konversi Tembakan |
11,2% |
Tertinggi keempat sejak 2003 (Sangat Efisien) |
| Gol per Laga |
2,7 |
Turun drastis dari 3,3 (musim 2023/24) |
| Kesimpulan |
Striker Tajam |
Suplai Peluang Minim |
Masa Depan Taktik Liga Primer
Sepakbola adalah permainan kucing-kucingan taktik yang terus berputar dalam siklus yang dinamis. Dominasi pertahanan dan maraknya skor 0-0 saat ini adalah respons langsung pelatih terhadap ledakan gol yang terjadi di musim-musim sebelumnya. Pelatih seperti Mikel Arteta di Arsenal dan Eddie Howe di Newcastle telah berhasil membangun unit pertahanan yang sulit ditembus, memaksa lawan untuk berpikir lebih keras dan bermain lebih hati-hati.
Jika tren kemarau gol ini terus berlanjut, kita mungkin akan melihat evolusi taktik berikutnya sebagai respons balik. Tim-tim mungkin akan kembali menghidupkan peran "penembak jitu" dari lini kedua untuk memecah blok pertahanan rendah lewat tendangan jarak jauh. Atau, kita akan melihat peningkatan fokus pada situasi bola mati (set-pieces) sebagai cara paling efektif membobol gawang yang rapat.
Bagi penggemar netral yang mendambakan hiburan, ini mungkin periode yang membosankan dan membuat frustrasi. Namun bagi para pemuja taktik, melihat bagaimana dua tim saling mematikan strategi masing-masing adalah keindahan tersendiri layaknya pertandingan catur tingkat tinggi. Keseimbangan antara serangan dan pertahanan sedang diuji ulang di lapangan hijau Inggris.
Meski begitu, industri sepakbola hidup dari kegembiraan gol. Seperti kata Pique, pada akhirnya penonton membayar mahal untuk melihat jala gawang bergetar dan pemain melakukan selebrasi, bukan untuk melihat papan skor yang tak berubah selama 90 menit. Evolusi taktik selanjutnya diharapkan bisa memecahkan kebuntuan ini demi hiburan sepak bola itu sendiri.
Ringkasan Evolusi Taktik Saat Ini
| Fase Permainan |
Tren Saat Ini |
Prediksi Respons Taktik |
| Pertahanan |
Blok Rendah, Rapat di Kotak Penalti |
Lebih Agresif di Lini Tengah |
| Serangan |
Masuk ke Kotak, Hindari Long Shot |
Kebangkitan Tembakan Jarak Jauh |
| Hasil Akhir |
Skor Rendah / 0-0 |
Peningkatan Gol via Bola Mati |