Suara.com - Rupiah berbalik menguat pada pembukaan pagi ini terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini membuat mata uang Garuda paling kuat di Asia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah Selasa 21 Juli 2026
dibuka ke level Rp17.940 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menguat 8 poin atau 0,14 persen dari hari sebelumnya yang ada di Rp17.948 per dolar AS.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan ini disebabkan oleh meredanya tensi geopolitik Amerika Serikat dengan Iran.
Baca Juga : Amerika Bom Iran, Rupiah Tersungkur
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh meredanya tensi geopolitik di timteng menyusul laporan bahwa AS dan Iran mengisyaratkan kesediaan untuk melakukan negosiasi," katanya.
Selain itu, penguatan juga dipengaruhi oleh dana asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia. Hal ini memberikan sentimen positif pada rupiah.
"Rupiah juga didukung oleh dana asing yang masih terus kembali masuk ke pasar Indonesia. Range 17850-18000," ucapnya.
Baca Juga : Kredit Tumbuh, Tapi Bank Perketat Syarat Pinjaman di Tengah Ketidakpastian
Sementara itu, mata uang Asia beberapa bergerak variatif. Ringgit Malaysia mencatat menguat 0,07 persen, yuan China menguat 0,06 persen. Lalu dolar Singapura yang menguat 0,02 persen terhadap dolar AS.
Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,25 persen disusul dolar Taiwan yang melemah 0,03 persen. Diikuti baht Thailand melemah 0,03 persen peso Filipina melemah 0,02 persen.
Disusul yen Jepang melemah 0,006 perssn dan dolar Hong Kong yang melemah 0,003 persen. Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 100,96, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 100,94.
Baca Juga : Rupiah Keok Lawan Dolar AS Pagi Ini, Jadi Mata Uang Paling Loyo di Asia












