Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan kebijakan insentif mobil listrik masih dalam tahap pembahasan bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Hingga kini, belum ada keputusan final
terkait skema maupun besaran insentif yang akan diberikan.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, mengatakan pembahasan insentif dilakukan seiring dengan upaya pemerintah mendorong penjualan kendaraan bermotor nasional pada 2026 dengan target 850 ribu unit.
“Tahun lalu realisasinya sekitar 803 ribu unit. Tahun ini kami menargetkan 850 ribu unit, dan Kemenperin sudah bersurat ke Kementerian Keuangan untuk membantu industri otomotif agar penjualannya membaik,” ujarnya di JIEXPO Kemayoran, Jumat (6 Februari 2026).
Baca Juga : Pemerintah Harapkan IIMS 2026 Jadi Katalis Pemulihan Industri Otomotif
Lebih lanjut, ia menyebut saat ini usulan insentif mobil listrik masih berada di Kemenkeu dan belum dapat dipastikan kapan keputusan akan diambil.
“Masih dalam pembahasan di Kemenkeu. Ditunggu saja, mudah-mudahan segera ada jawabannya,” katanya.
Terkait insentif kendaraan hybrid pun, Setia menegaskan kebijakannya masih sama dan belum mengalami perubahan.
Baca Juga : Strategi Baru Kia Hadapi Dinamika Pasar Otomotif Tanah Air di IIMS 2026
Sementara untuk segmen Low Cost Green Car (LCGC), pemerintah masih mempertahankan insentif berupa tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 3 persen yang masuk dalam program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV).
“Untuk LCGC masih ada program LCEV dengan PPnBM 3 persen. Program ini kan berjalan sampai 2031 sesuai dengan Perpres,” ujarnya.
Sebagai informasi, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menetapkan target penjualan mobil nasional sebesar 850.000 unit pada 2026, seiring kondisi pasar otomotif domestik yang dinilai masih cukup menantang.
Baca Juga : Industri Otomotif Bawa Indeks Kepercayaan Industri Naik Tinggi di Januari 2026
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil secara wholesales atau dari pabrik ke diler pada 2025 tercatat sebanyak 803.687 unit, turun 7,2 persen dibandingkan capaian 2024 yang mencapai 865.723 unit.
Sementara, penjualan mobil dari diler ke konsumen (retail sales) pada 2025 mencapai 833.692 unit atau turun 6,3 persen dibandingkan 889.680 unit pada 2024.
Baca Juga : Tekanan Fiskal Semakin Berat, Kemenperin Tak Lagi Ngotot Minta Insentif Otomotif

