Perjalanan Karier Gemilang
Francois Letexier, seorang pejabat hukum sekaligus juru sita pengadilan, memiliki karier perwasitan yang impresif. Lahir di Brittany, Prancis, pada 23 April 1989, ia menapaki jenjang karier sepak bola
dengan cepat. Debutnya di Ligue 1 Prancis terjadi pada tahun 2016, menjadikannya wasit termuda di kasta tertinggi sepak bola Prancis saat itu. Setahun kemudian, ia mendapatkan lisensi wasit internasional dari FIFA. Prestasi puncaknya meliputi penugasan sebagai wasit utama final UEFA Euro 2024, yang menjadikannya salah satu wasit termuda yang pernah memimpin laga puncak turnamen tersebut. Ia juga dipercaya memimpin UEFA Super Cup 2023 dan menjadi ofisial keempat di final Liga Champions UEFA 2024. Pengakuan internasional datang ketika ia dinobatkan sebagai wasit pria terbaik dunia tahun 2024 oleh IFFHS, menegaskan reputasinya sebagai salah satu pengadil lapangan paling dihormati di Eropa dan dunia.
Kontroversi Laga Argentina vs Mesir
Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir, yang berakhir dengan kemenangan Argentina 3-2, diwarnai kontroversi yang melibatkan keputusan wasit Francois Letexier dan penggunaan VAR. Pihak Mesir merasa dirugikan, terutama setelah gol kedua mereka dianulir pada babak kedua. Gol tersebut tercipta melalui serangan balik cepat yang diselesaikan oleh Mostafa Ziko. Namun, setelah tinjauan VAR, Letexier memutuskan menganulir gol tersebut karena menganggap gelandang Mesir, Marwan Attia, melakukan pelanggaran terhadap Lisandro Martinez sebelum gol tercipta. Mesir berargumen bahwa intervensi VAR terlalu jauh karena insiden yang dianggap pelanggaran terjadi cukup lama sebelum bola masuk ke gawang. Mereka juga mempertanyakan inkonsistensi keputusan, terutama terkait klaim penalti yang tidak diberikan kepada Hamdy Fathy meski diduga ada tarikan dari Alexis Mac Allister di kotak penalti Argentina, sementara Argentina kemudian berhasil mencetak gol kemenangan. Pelatih Mesir, Hossam Hassan, secara terbuka mengkritik kepemimpinan Letexier, dan beberapa pemain Mesir merasa keputusan tersebut merugikan tim mereka.
Rekam Jejak di Indonesia
Nama Francois Letexier tidak asing bagi publik sepak bola Indonesia, karena ia pernah memimpin pertandingan penting antara timnas Indonesia U-23 dan timnas Guinea U-23 pada Mei 2024 dalam laga play-off Olimpiade Paris 2024. Dalam pertandingan tersebut, Letexier memberikan dua hadiah penalti untuk Guinea yang menimbulkan perdebatan dari kubu Indonesia. Salah satu penalti diberikan atas dugaan pelanggaran Witan Sulaeman terhadap Algassime Bah, sementara penalti kedua terkait duel antara Alfeandra Dewangga dan pemain Guinea juga dianggap kontroversial. Pelatih Indonesia saat itu, Shin Tae-yong, melayangkan protes keras kepada Letexier di pinggir lapangan, yang berujung pada kartu kuning dan kemudian kartu merah baginya. Berbeda dengan pertandingan Piala Dunia 2026 yang menggunakan VAR, laga play-off tersebut tidak melibatkan teknologi VAR, sehingga keputusan wasit tidak dapat ditinjau ulang.












