Awal Perjalanan Karier
Janice Tjen, lahir di Jakarta pada 6 Mei 2002, memulai perjalanan tenisnya pada usia tujuh tahun, didorong oleh teman masa kecilnya yang juga seorang petenis. Meskipun tidak memiliki prestasi junior yang mencolok
dibandingkan beberapa rekannya, Janice menunjukkan etos kerja yang kuat dan disiplin sejak usia dini. Wynne Prakusya, mantan atlet tenis Indonesia, mengenang Janice sebagai anak yang tinggi, kurus, namun memiliki keinginan besar untuk berlatih tanpa mengeluh, bahkan saat diberi porsi latihan yang berat. Kualitas ini menjadi modal berharga dalam dunia tenis modern yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan. Postur tubuhnya yang jangkung, mencapai 171 cm, menjadi keuntungan signifikan di lapangan, berbeda dengan beberapa petenis Indonesia sebelumnya yang mungkin mengalami kesulitan bersaing di level elite karena keterbatasan fisik.
Jalur Alternatif: Universitas dan Titik Balik
Menyadari mahalnya biaya dunia tenis profesional, Janice Tjen mengambil jalur alternatif dengan melanjutkan pendidikan melalui beasiswa tenis di Amerika Serikat. Ia memulai karier tenis NCAA pada musim gugur 2020 di Universitas Oregon, sebelum pindah ke Universitas Pepperdine pada musim 2021–2022, dan lulus pada Mei 2024 dengan gelar sosiologi. Momen krusial yang menyalakan keyakinannya untuk terjun ke tenis profesional terjadi di Asian Games Hangzhou 2022. Di sana, Janice memberikan perlawanan sengit kepada tunggal putri andalan tuan rumah, Zhu Lin, yang kala itu berada di top 50 dunia. Pertandingan ini menjadi pencerahan spiritual baginya, memberinya keyakinan bahwa ia mampu bersaing di level dunia. Keyakinan ini semakin kuat setelah ia bersama Aldila Sutjiadi meraih medali perunggu di nomor ganda putri. Atmosfer Asian Games memberinya gambaran awal kemampuannya bersaing di kancah internasional.
Melejit di Jalur Profesional
Keputusan Janice untuk menyelesaikan kuliah terbukti berbuah manis. Pada tahun 2024, ia menuntaskan karier studinya dengan menempati peringkat ganda nomor satu di ITA. Berbekal keyakinan dari Asian Games, Janice langsung tancap gas dari level bawah ITF dengan mencatatkan rekor menang-kalah fantastis 39-3 sepanjang 2024. Perjuangannya dimulai dari titik nol, tanpa adanya turnamen profesional putri di Indonesia, Janice harus melanglang buana secara mandiri. Pada Mei 2024, dengan status tanpa peringkat, ia menjuarai turnamen level terendah ITF di Monastir, Tunisia. Langkah mandiri ini mempertemukannya dengan pelatih Chris Bint, yang kemudian memutuskan untuk melatih Janice secara penuh waktu. Bersama Bint, Janice menembus peringkat 200 besar dunia dan lolos kualifikasi AS Terbuka 2025, bahkan mengalahkan unggulan ke-24 Veronika Kudermetova. Janice menutup musim 2025 dengan gelar tunggal WTA pertamanya di Chennai, India, memutus dahaga 23 tahun tenis tunggal putri Indonesia. Ia juga meraih gelar ganda di Chennai bersama Aldila Sutjiadi. Pada awal 2026, Janice lolos ke babak kedua Australia Terbuka, pencapaian yang terakhir kali diraih petenis Indonesia oleh Yayuk Basuki pada 1998.
Adaptasi dan Mentalitas Juara
Perjalanan Janice di dunia tenis profesional penuh dengan pembelajaran dan adaptasi. Gaya permainannya yang mengandalkan forehand bertenaga dan variasi backhand slice seringkali disamakan dengan mantan petenis nomor satu dunia, Ash Barty, yang juga merupakan idolanya. Pelatih Chris Bint terus memantapkan teknis permainan Janice, termasuk mempertajam servis, menambah kekuatan forehand, dan mengasah backhand slice agar lebih destruktif. Janice juga harus beradaptasi dengan berbagai permukaan lapangan seperti tanah liat dan rumput, yang masih menjadi tantangan baginya. Selain itu, ia juga fokus pada efisiensi pukulan dan membenahi teknik backhandnya. Di tengah ketatnya jadwal tur dunia, Janice tetap berkomitmen membela timnas, bahkan pernah bermain dengan cedera pergelangan kaki parah. Di luar lapangan, Janice juga harus membentengi diri dari sorotan publik, kritik, dan pesan-pesan perundungan di media sosial, yang menunjukkan pentingnya kekuatan mental dalam menghadapi sisi gelap dunia maya.
Menghadapi Tantangan Media Sosial
Sebagai petenis profesional, Janice Tjen menghadapi tekanan tidak hanya di lapangan, tetapi juga di ranah digital. Ia kerap menerima kritik pedas warganet, terutama setelah menelan kekalahan, yang bahkan membuatnya sempat rehat dari media sosial. Perlakuan ini mengundang keprihatinan dari para seniornya, yang membandingkan dengan dukungan publik di negara lain. Namun, Janice memilih untuk tidak terbebani oleh ekspektasi publik atau suara sumbang di jagat maya. Ia fokus pada proses perkembangannya sendiri, meyakini bahwa setiap pemain di level ini pasti menghadapi komentar serupa. Janice menekankan pentingnya percaya pada orang-orang terdekat dan timnya, serta tidak ada seorang pun yang ingin kalah. Ia membuktikan bahwa menempuh jalan memutar melalui bangku kuliah terlebih dahulu tidak menghalangi kesuksesan di panggung dunia, dan setiap orang memiliki jalannya masing-masing.










