Ekraf Diperluas dengan Teknologi
Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) telah mengambil langkah strategis dengan memasukkan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dan profesi konten kreator ke dalam Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf)
2026-2045. Inisiatif ini diresmikan melalui penambahan empat subsektor baru, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2026. Perubahan ini secara signifikan menambah jumlah subsektor ekonomi kreatif di Indonesia dari 17 menjadi 21. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan daya saing bangsa di era digital yang semakin pesat dan dinamis, sejalan dengan perkembangan teknologi global dan perubahan lanskap ekonomi dunia.
Empat Subsektor Baru Terungkap
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, secara spesifik menguraikan keempat subsektor baru yang kini menjadi bagian integral dari Rindekraf 2026-2045. Keempatnya mencakup modifikasi otomotif, yang merujuk pada industri kustomisasi kendaraan; teknologi baru, yang meliputi spektrum luas seperti AI, blockchain, big data, dan keamanan siber; konten digital, yang di dalamnya termasuk peran penting konten kreator, affiliator, dan live commerce; serta subsektor sulih suara atau voice over. Penambahan ini tercatat dalam lampiran pertama Perpres Nomor 37 Tahun 2026, yang mengelompokkan subsektor ke dalam empat klaster utama: seni dan budaya, desain, teknologi dan konten digital, serta media.
Penguatan Daya Saing Adaptif
Pengelompokan ulang dan penambahan subsektor dalam Rindekraf 2026-2045 dirancang secara cermat untuk memperkuat daya saing sektor ekonomi kreatif Indonesia dalam menghadapi tantangan era digitalisasi, adopsi AI, transisi menuju ekonomi hijau, serta memanfaatkan peluang ekonomi masa depan. Dengan total kini 21 subsektor, Indonesia berupaya membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih kokoh dan adaptif. Menteri Teuku Riefky Harsya menekankan bahwa Perpres Rindekraf ini diharapkan menjadi payung kebijakan yang terintegrasi, mendukung pembangunan ekosistem ekonomi kreatif nasional yang lebih kuat dan berdaya saing, sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045.









