Kenangan dan Favorit
Tersimpan dalam ingatan, Perpustakaan Jakarta Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) menduduki peringkat teratas sebagai perpustakaan favorit. Meskipun demikian, kunjungan
di tahun ini baru sekali dilakukan. Keistimewaan perpustakaan ini pertama kali dirasakan penulis saat masa perkuliahan, khususnya pada semester lima ke atas. Seringnya singgah di TIM, lalu mampir ke perpustakaan tersebut, menumbuhkan rasa cinta mendalam berkat koleksi buku sastranya yang sangat memukau. Sejak itulah, perpustakaan ini menjadi favorit utama. Kini, setelah melalui proses revitalisasi, tempat ini semakin mempesona dengan fasilitas yang diperbarui, seperti ruang kerja bersama yang lebih banyak, area baca dengan pemandangan indah, jam operasional yang diperpanjang, serta berbagai fasilitas penunjang lainnya yang kian mumpuni. Lokasinya berada di Jalan Cikini Raya No. 73, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Nostalgia Perjalanan
Perjalanan menuju Perpustakaan Jakarta PDS H.B. Jassin sempat tertunda berkali-kali akibat kesibukan yang tak terduga. Namun, sebuah kesempatan mendadak di pagi hari akhirnya memungkinkan penulis untuk menjelajahi kembali perpustakaan impian ini. Perjalanan dimulai dari Stasiun Bogor sekitar pukul 10.00 WIB, tiba di Stasiun Cikini pada pukul 11.15 WIB, dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju perpustakaan. Opsi menggunakan JakLingko dengan turun di Stasiun Gondangdia sebenarnya tersedia, namun penulis memilih berjalan kaki demi mengenang masa kuliah yang penuh dengan aktivitas serupa. Sayangnya, suasana Cikini kini terasa berbeda. Area trotoar yang dulu nyaman untuk pejalan kaki kini kerap dilalui oleh ojek online, menimbulkan rasa kurang nyaman dan kekhawatiran keselamatan. Hal ini juga diamini oleh beberapa teman, yang merasakan kerawanan serupa akibat pengemudi ojek yang memaksa masuk ke jalur pejalan kaki, sebuah situasi yang sangat diharapkan segera mendapat perhatian dan tindakan tegas.
Kuliner dan Refleksi
Di lantai dasar gedung Ali Sadikin, tepat di bawah area perpustakaan, terdapat sebuah area kuliner yang menyajikan beragam masakan Nusantara. Penulis memilih kedai SegoTu dan memesan seporsi Cumi Madura, yang tampilannya sesuai harapan. Menu lengkapnya terdiri dari nasi putih, tempe bumbu cabai merah, cumi hitam, sambal, dan lalapan, dengan porsi yang sangat mengenyangkan. Suasana makan berlangsung khidmat, dan kedai tersebut menjadi yang paling ramai dikunjungi. Setelah menikmati hidangan, azan Zuhur terdengar, mendorong penulis untuk bergegas menuju masjid di kawasan TIM yang sudah mulai dipenuhi jamaah. Usai menunaikan ibadah, perjalanan dilanjutkan menuju gedung perpustakaan. Sambil berjalan, penulis mengenang masa-masa kuliah yang seringkali diisi dengan menonton pertunjukan teater di TIM, bahkan pernah menyaksikan penampilan Sujiwo Tejo bersama anak-anak UI yang sangat memukau meski harus membayar tiket. Pengalaman berkesenian di masa SMP dan SMK, termasuk menjadi peran antagonis dan belajar olah vokal serta gestur, turut menambah rasa nostalgia. Ruang-ruang seni kreatif memang menawarkan dunia yang menarik untuk diselami.













